Penulis : Ahmad Faishal Abyoso
Sekolah : 11 IPA 1 SMAI NFBS Serang
Di sekolah ini, dinding-dinding beton tak pernah benar-benar diam membisu, Mereka justru menjadi penghidup suasana sekaligus pembentuk karakter para siswa di lingkungannya. Pria paruh baya dibalik tulisan-tulisan dan lukisan itu bernama Budi, seniman berumur 56 tahun ini mendedikasikan separuh dari kehidupannya untuk berkarya dengan tujuan agar karya karyanya tersebut dapat membangun karakter para siswa dan siswi yang melihatnya.
Lebih dekat lagi, nama lengkapnya ialah Budi Hartono atau biasa dipanggil Ustadz Budi, kini ia sudah memiliki anak bersama istri yang ia cintai. Lebih tepatnya ia lahir pada 2 juni 1970, Budi Hartono lahir dari garis keturunan seorang pedagang di kota madiun, dengan kedua orangtuanya ia tumbuh dan berkembang menjadi anak yang kuat dan pekerja keras. Tak hanya itu, ia juga dikelilingi oleh lingkungan pertemanan yang baik dan religius disekitarnya. Namun hari apes tidak ada di kalender, bisnis orangtuanya mengalami kebangkrutan, karena hal tersebut kedua orang tuanya sampai terpaksa menjual beberapa aset berharga demi menghidupi keluarga.

“Bayangkan mas, saya ke sekolah itu cuma membawa tas dan satu buku tulis, sama sekali gak bawa buku paket” akunya. Terkadang juga ketika guru sedang menjelaskan materi pelajaran di papan tulis, ia malah asyik menggambar dan mencorat-coret. Di tengah keapatisannya terhadap pelajaran-pelajaran di sekolah, Pak Budi juga memiliki kenakalan di luar sekolah. “Jadi saya bareng teman-teman saya itu suka bikin graffiti di tembok yang ada di jalanan, biasa kenakalan 2 anak remaja jadi setelah sekolah saya bikin mural di dinding-dinding pake cat semprot” ungkapnya.
“Tapi Alhamdulillah mas selama saya SMA itu, saya gak pernah merokok, gak pernah minum alkohol atau yang lain walaupun teman saya semuanya begitu” ucapannya ini membuat saya tertegun dan sadar bahwa tak semua orang di dunia akan dikelilingi oleh lingkungan pertemanan yang sehat, sebagaimana apa yang Ustadz Budi lakukan, tugas kita adalah bertahan dan tetap menjadi orang baik.


Setamatnya dari SMA, ia sama sekali tak tertarik untuk lanjut ke jenjang perkuliahan karena menurutnya berkuliah hanya akan menambah beban kedua orang tua. Pilihannya adalah merantau, Serang menjadi tempat tujuannya, ia bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan pabrik kimia untuk waktu yang cukup lama. Sampailah di tahun 2013, Pak Budi memutuskan untuk pindah dan bekerja di salah satu sekolah bernama Nurul Fikri Serang, di titik ini Pak Budi bukan bekerja sebagai guru yang mengajarkan kesenian maupun budaya, melainkan sebagai penjaga keamanan atau satpam.
Pandangan Pak Budi berbeda dengan yang lain, ia melihat bahwa lingkungan Nurul Fikri sebagai kanvas putih yang kosong dan membutuhkan sentuhan warna menggunakan tangannya, kali ini jiwanya tertarik untuk berkarya namun dengan tujuan yang berbeda. “Ustadz tuh berfikir untuk memperindah sesuatu agar bermanfaat bukan untuk tujuan yang tidak membangun” ucapnya dengan penuh keyakinan.


Perlahan tapi pasti, karyanya menarik perhatian berbagai instansi yang ada di cilegon, pandeglang, atau membuat mural di sekolah-sekolah dasar yang terletak di anyer, sampai-sampai karyanya menarik perhatian Radar Banten untuk mengundangnya.Melihat Potensi tersebut, sekolah memutuskan untuk memindahkannya tugasnya ke bagian dekorasi dan pertamanan. Bagi Ustadz Budi, ini adalah hijrah yang sesungguhnya. Seni jalanan yang dulu ia lakukan tanpa arah, kini menjadi media dakwah untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan.


Pada akhirnya, setiap goresan kuas Pak Budi adalah bentuk dedikasi yang tulus kepada dunia pendidikan. Ia telah membuktikan bahwa sisa-sisa kenakalan masa muda bersama cat semprot bisa diubah menjadi narasi visual yang mendidik dan bermanfaat. Perjalanan hidup Budi Hartono dari jalanan Madiun hingga menjadi seniman di NFBS Serang adalah sebuah pengingat bagi kita semua. Tidak ada masa lalu yang terlalu kelam untuk diubah menjadi masa depan yang penuh warna. Lewat tangannya, dinding beton yang tadinya bisu kini terus bicara tentang kebaikan, budaya, dan harapan.

Pak Budi mengajarkan bahwa seni sejati bukan hanya tentang keindahan mata, tapi tentang bagaimana keindahan itu bisa membangun karakter seseorang menjadi lebih baik. Ia adalah bukti bahwa di tangan orang yang tepat, sebuah coretan sederhana bisa berubah menjadi mahakarya yang mencerahkan jiwa.