"Gapapa, Sabar Aja": Mengapa Kalimat Penenang Bisa Jadi Racun bagi Anak Kita? Pena Nurul Fikri

"Gapapa, Sabar Aja": Mengapa Kalimat Penenang Bisa Jadi Racun bagi Anak Kita?

Mengenal Toxic Positivity

 

Pernahkah Bunda atau Ayah melihat si Kecil (yang kini sudah beranjak remaja atau kuliah) sedang menangis karena gagal dalam ujian atau patah hati, lalu secara otomatis kita berkata, "Sudahlah, ambil hikmahnya saja, yang penting kamu sudah usaha. Jangan sedih terus, malu dilihat orang!"?

 

Niatnya memang baik, ingin menyemangati. Namun, tahukah Ayah dan Bunda? Kalimat "penyemangat" yang memaksa seseorang untuk terus terlihat bahagia dan menekan emosi negatifnya justru dikenal dengan istilah Toxic Positivity. Bagi remaja yang emosinya masih fluktuatif, hal ini bisa menjadi beban mental yang berat.

 

 

Apa Itu Toxic Positivity?

 

Secara sederhana, toxic positivity adalah keyakinan bahwa terlepas dari seberapa sulitnya suatu situasi, seseorang harus tetap mempertahankan pola pikir positif. Mengutip dari buku Toxic Positivity karya Whitney Goodman, ia menjelaskan bahwa memaksa diri untuk positif saat kita sedang hancur justru memutuskan koneksi kita dengan realita dan diri sendiri.

 

Dalam pandangan psikologi, emosi manusia itu seperti spektrum warna. Ada senang, ada sedih. Jika kita hanya mengizinkan warna "cerah" saja yang muncul, maka kesehatan mental anak akan terganggu.

 

 

Mengintip Toxic Positivity lewat Kacamata Islam

 

Islam adalah agama yang sangat manusiawi dalam memandang emosi. Kita tidak dilarang bersedih. Ingatlah kisah Nabi Ya’qub AS saat kehilangan Nabi Yusuf AS, beliau bersedih hingga matanya memutih (rabun). Allah SWT tidak memarahi kesedihan beliau, namun memuji kesabaran yang indah (Sabrun Jamil).

 

Dalam buku La Tahzan karya Dr. Aidh al-Qarni, ditekankan bahwa kebahagiaan sejati bukan berarti tidak ada kesedihan, melainkan bagaimana kita mengelola hati saat ujian datang. Islam mengajarkan ridha, namun bukan berarti mematikan rasa sedih atau berpura-pura semua baik-baik saja di depan manusia.

 

Point Penting: Mengapa Remaja Rentan Terkena "Racun" Positif Ini?

  1. Tekanan Media Sosial: Remaja melihat dunia yang selalu "estetik" dan bahagia di Instagram atau TikTok. Mereka merasa bersalah jika merasa sedih.

  2. Kurangnya Literasi Emosi: Banyak remaja (dan orang tua) yang menganggap emosi negatif sebagai tanda kelemahan atau kurang iman.

  3. Standar Prestasi: Di sekolah atau kampus, mereka dituntut selalu on fire, sehingga kegagalan dianggap sebagai aib yang harus ditutupi dengan senyum palsu.

 

 

Studi Kasus: Kisah Bunga (19 Tahun, Mahasiswi)

 

Bunga baru saja kehilangan beasiswanya karena nilai yang turun akibat kondisi kesehatan. Saat ia bercerita kepada orang tuanya, respons yang ia dapat adalah: "Ah, jangan dipikirin. Masih untung kamu kuliah. Liat tuh sepupumu, dia lebih susah tapi tetap senyum."

 

Dampaknya? Bunga berhenti bercerita. Ia merasa perasaannya tidak valid. Ia mulai memendam stresnya sendiri hingga berakhir pada gejala depresi. Bunga merasa menjadi orang yang tidak bersyukur karena tidak bisa "positif" seperti tuntutan orang tuanya. Inilah contoh nyata bagaimana toxic positivity memutus jembatan komunikasi antara anak dan orang tua.

 

 

Cara Menghadapi dan Mengubah Pola Komunikasi

 

Agar tidak terjebak dalam toxic positivity, Ayah dan Bunda bisa mencoba langkah-langkah berikut:

 

1. Validasi, Bukan Solusi Instan

Saat anak bercerita, mereka seringkali hanya butuh didengar, bukan langsung diberi ceramah. Cobalah ganti kalimat:

  • Toxic: "Jangan sedih, dong."

  • Validasi: "Wajar banget kalau kamu merasa kecewa. Ayah/Bunda paham itu berat."

 

2. Ajarkan Bahwa "It’s Okay Not to be Okay"

Katakan pada mereka bahwa merasa lelah, marah, atau kecewa adalah bagian dari menjadi manusia. Dalam psikologi, menerima emosi negatif justru akan mempercepat proses penyembuhan (healing).

 

3. Berikan Ruang untuk Menangis

Menangis bukan tanda lemah. Menangis adalah mekanisme alami tubuh untuk melepaskan hormon stres. Biarkan mereka mengekspresikan perasaannya hingga tenang, baru kemudian ajak berdiskusi secara logis.

 

4. Hubungkan dengan Spiritual yang Menyejukkan

Alih-alih berkata "Kamu kurang ibadah makanya sedih," lebih baik katakan, "Allah tahu kamu lagi berat. Yuk, kita tumpahkan semua di sujud malam, nangis sepuasnya sama Allah biar hati lebih lapang."

 

 

Kesimpulan: Menjadi Pelabuhan yang Aman

 

Dunia remaja saat ini sudah cukup keras dengan segala tuntutannya. Jangan sampai rumah yang seharusnya menjadi tempat mereka pulang dan melepaskan topeng, justru menjadi tempat di mana mereka harus berpura-pura bahagia.

 

Mengutip pesan indah dari salah satu literatur psikologi perkembangan, "Anak-anak tidak butuh orang tua yang sempurna, mereka butuh orang tua yang bisa hadir dan mengerti saat dunia mereka sedang tidak sempurna."

 

Mari kita mulai belajar membedakan mana optimisme yang sehat dan mana positif yang beracun. Dengan memvalidasi perasaan mereka, kita sedang membangun pondasi mental yang kuat bagi masa depan mereka. Semangat mendampingi buah hati, Ayah dan Bunda!