Dari Batu Tulis ke 'Backside': Perjalanan Epic Bahasa Kita yang Gak Ada Matinya! Pena Nurul Fikri

Dari Batu Tulis ke 'Backside': Perjalanan Epic Bahasa Kita yang Gak Ada Matinya!

Bayangkan kalau kamu tiba-tiba terlempar ke masa 1.300 tahun yang lalu. Pas lagi laper dan mau pesan seblak, kamu malah ketemu batu gede bertuliskan: "Siddhayatra nira yan laghu megha..." Pasti reaksi kamu cuma satu: "Hah, ini server mana, sih?"

 

Padahal, itu adalah kutipan Prasasti Kedukan Bukit (683 M), kakek buyutnya bahasa Indonesia yang kita pakai buat chatting hari ini. Bahasa itu kayak makhluk hidup, Guys. Dia bernapas, tumbuh, kadang "glow up", dan pastinya berevolusi mengikuti siapa yang memakainya. Yuk, kita bedah gimana transformasi bahasa kita dari zaman batu sampai zaman brainrot ala Gen-Z!

 


 

1. Zaman Old: Ketika Bahasa Adalah 'Status'

 

Dulu, bahasa itu kaku dan sakral. Di zaman kerajaan, bahasa Melayu Kuno dipahat di prasasti buat mengabadikan kemenangan perang atau sumpah serapah raja. Gak ada tuh istilah curhat atau ghosting. Bahasa adalah alat kekuasaan.

 

Lalu masuk ke era Sumpah Pemuda 1928. Di sini, bahasa jadi alat pemersatu. Para pahlawan kita sadar kalau mau merdeka, kita butuh satu frekuensi. Menariknya, bahasa Indonesia dipilih dari Bahasa Melayu karena sifatnya yang "demokratis"—nggak punya tingkatan kasta yang ribet kayak beberapa bahasa daerah lainnya.

 

Dalam buku "Language and Symbolic Power", sosiolog Pierre Bourdieu pernah bilang kalau bahasa itu bukan cuma alat komunikasi, tapi juga instrumen kekuasaan. Siapa yang menguasai bahasa, dia yang memegang kendali sosial.

 


 

2. Era Ejaan yang Disempurnakan (EYD) vs Bahasa Prokem

 

Masuk ke tahun 80-an dan 90-an, bahasa Indonesia mulai punya saingan yang namanya Bahasa Prokem. Kalau kamu tanya orang tuamu tentang kata "Bokap", "Nyokap", atau "Sobi", itu adalah tren slang pertama yang masif di Indonesia.

 

Psikolog remaja melihat fenomena ini sebagai cara remaja membangun "tembok" antara mereka dan orang dewasa. Remaja butuh kode rahasia supaya orang tua nggak kepo sama urusan mereka. Ini adalah bentuk pencarian identitas yang sehat banget menurut kacamata psikologi.

 


 

3. Ledakan Gen-Z: Bahasa yang Makin Sat-Set

 

Nah, sekarang kita sampai di eramu: Era Gen-Z. Evolusi bahasa sekarang kecepatannya udah kayak internet 5G. Berkat TikTok, Twitter (X), dan Instagram, istilah baru muncul setiap minggu.

 

Kenapa bahasa Gen-Z beda banget? Ada beberapa faktor:

 

  • Efisiensi (Sat-Set): Kenapa harus bilang "aku tidak peduli" kalau bisa bilang "IDGAF" atau "GWS"?

  • Serapan Inggris (Code-Mixing): Fenomena "Anak Jaksel" yang suka pakai basically, literally, which is. Ini terjadi karena kita terpapar konten global 24/7.

  • Ekspresi Emosi Baru: Istilah seperti "Red Flag", "Gaslighting", atau "Valid" sebenarnya adalah istilah psikologi yang dibawa ke pergaulan sehari-hari. Ini menunjukkan kalau remaja sekarang jauh lebih peduli sama mental health dibanding generasi sebelumnya.


 

4. Kenapa Kita Suka Pakai Bahasa Gaul? (Analisis Psikologi)

Ahli psikologi melihat penggunaan bahasa gaul bukan berarti kamu bodoh atau malas. Justru sebaliknya.

 

Remaja usia 13-15 tahun ada di tahap Identity vs Role Confusion (menurut teori Erik Erikson). Kamu lagi nyari: "Aku ini siapa sih? Aku masuk kelompok mana?" Memakai bahasa yang sama dengan temen satu circle itu memberikan rasa belonging atau rasa memiliki. Kalau kamu nggak tahu apa itu "Rizz" atau "Skibidi", kamu bakal merasa FOMO (Fear of Missing Out).

 

Bahasa gaul adalah "seragam" mental. Dengan memakai istilah yang sama, kamu merasa aman di dalam kelompok mu.

 


 

5. Data Bicara: Bahasa Indonesia di Mata Dunia

Tahu nggak? Berdasarkan data dari Ethnologue, bahasa Indonesia adalah salah satu bahasa dengan pertumbuhan tercepat. Bahkan, per November 2023, Bahasa Indonesia resmi jadi bahasa resmi di Sidang Umum UNESCO!

 

Ini bukti kalau bahasa kita itu fleksibel. Dia bisa sangat formal di panggung dunia, tapi bisa sangat santai di tongkrongan sambil makan cilok.

 


Apakah Bahasa Kita Bakal Rusak?

 

Banyak orang tua yang panik, "Duh, anak zaman sekarang bahasanya rusak!"

 

Tenang, Chill aja. Bahasa nggak bakal rusak cuma gara-gara kamu bilang "Cringe". Bahasa itu alat. Selama kamu tahu kapan harus pakai bahasa formal (pas ujian atau presentasi) dan kapan pakai bahasa gaul (pas mabar), kamu aman-aman aja. Jadi memang, kamu harus bisa menempatkan diri dalam berbahasa.

 

Evolusi dari prasasti ke bahasa gaul membuktikan kalau kita adalah bangsa yang kreatif. Kita nggak cuma nerima bahasa apa adanya, tapi kita "modifikasi" biar sesuai sama jiwa zaman.

 

Jadi, teruslah berekspresi! Selama kamu tetap menghargai lawan bicara dan tahu tempat, bahasa kamu adalah kekuatan kamu. Stay slay and keep leveling up your vocabulary!

 


 

Tips buat kamu: Jangan lupa baca buku sesekali, ya. Biar database kata di otak kamu nggak cuma isinya "Anjay" doang, tapi tetap punya kosakata yang classy buat masa depan! (HUM)